Segala puji dan syukur tak lupa kita ucapkan selalu pada Allah swt, yang selalu memberikan kita rizki nya yang berupa nikmat sehat lahir ataupun batin, sehingga atas-Nya kita bisa berkumpul di bingkai Ukhuwah Islamiyah.
Yang kedua, tak lupa pula kita haturkan shalawat serta salam atas Rasul dan juga Nabi kita, Nabi Muhammad saw, karena berkat beliaulah kita bisa membedakan antara hak dan yang batil, antara yang halal dengan yang haram, serta membimbing dari jalan yang menyimpang menuju jalan yang di ridhoi-Nya.
Para Jemaah sekalian yang Insya Allah di rahmati Allah. Manusia hidup di dunia ini tidak lepas dengan yang namanya Interaksi, atau hubungan timbal balik. Karena manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, apalagi dalam memenuhi kebutuhan, khususnya di lingkungan masyarakat. Antar manusia itu saling ketergantungan dalam segala bidang kehidupan. Kita itu bagaikan seekor lebah dengan bunga, bagaikan kerbau dengan burung jalak saling membentuk simbiolisme untuk bertahan hidup.
Namun dalam kehidupan itu pastilah ada perbedaan, karena Allah meciptakan manusia itu bersuku suku, berbangsa-bangsa, dan beraneka ras. Untuk meciptakan kehidupan damai dan terbebas dari konflik perbedaan maka diperlukan sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama. Sikap saling menghargai ini sering kita artikan dengan sebuah kata Indah nan bermakna . Ya apa lagi kalau bukan Toleransi, dalam istilah arab ya tasamuh. Toleransi itu adalah sebuah elemen penting dalam terciptanya suatu ikatan hubungan dalam kehidupan.
PENGERTIAN
Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya
Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan.
MACAM-MACAM
1) Toleransi Budaya
Budaya juga salah satu bentuk toleransi yang sangat penting untuk dipahami oleh masyarakat, budaya yang tidak sama menyebabkan adat serta istiadat yang berbeda pula. karna itu harus terdapat regulasi yang mengatur keanekaragaman yang ada.
2) Toleransi Politik
Toleransi politik ialah bagian dari toleransi, perbedaan pilihan dalam kepemimpinan merupan salah satu sumber masalah sosial. Semua ini disebabkan karena tidak adanya sikap saling menghargai pilihan masing-masing individu dalam masyarakat, seperti pemilihan yang dilakiukan lembaga politik dalam pilihan Kepala Daerah dan bahkan dalam pilihan kepala desa.
3) Toleransi Agama
Hal utama yang dibutuhkan dan biasanya digunakan dalam toleransi yakni dalam beragama. Dan Agama ini menjadi segmen penting dalam setiap kehidupan masyarakat. Dengan penuh keyakinan masyarakat melaksanakan agama, dengan terdapat perbedaan yang tidak diikuti pada toleransi ini bisa menimbulkan perpecahan serta peperangan dalam masyarakat.
Toleransi beragama berarti saling menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa mereka mengikuti agamanya dan tidak mencampuri urusan agama masing-masing.Sebagai mana dalam firman Allah dalam:
Surah Al-Kafirun
وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ (4) (3) وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْن (2) (1) قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ
(6)(5) لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ
Artinya: Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (Q.S. al-Kafirun: 1-6).
Ayat ini turun saat orang-orang kafir Quraisy mencari-cari cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw.. Setelah mereka gagal membujuk Rasulullah saw. dengan tahta, wanita, dan harta, maka mereka pun sekarang hendak membujuknya dengan berkompromi (bertoleransi) untuk saling menyembah Tuhan satu dengan Tuhan yang lain. Artinya, kaum kafir Quraisy hendak meminta Rasulullah untuk menyembah Tuhan mereka pada tahun tertentu dan mereka akan menyembah Allah pada tahun lainnya (bergantian). Maka ayat ini menjawab ajakan itu dengan menolaknya dengan tegas, bahwa toleransi yang seperti ini tidaklah tepat.
Mereka mengatakan, “Wahai Muhammad, marilah kami menyembah Tuhan yang kamu sembah dan kamu menyembah Tuhan yang kami sembah. Kita bersama-sama ikut serta dalam perkara ini. Jika ternyata agamamu lebih baik dari agama kami, kami telah ikut serta dan mengambil keuntungan kami dalam agamamu. Jika ternyata agama kami lebih baik dari agamamu, kamu telah ikut serta dan mengambil keuntunganmu dalam agama kami.”
Surat Al Kafirun ayat 5
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Perhatikan redaksi ayat 3 dan ayat 5 ini. Sama-sama digunakan kata maa a’bud (ما أعبد) yang merupakan bentuk kata kerja masa kini dan masa datang (fi’il mudhari’). Menegaskan bahwa apa yang beliau sembah tidak berubah.
Syaikh Muhammad Abduh mengatakan, ayat 2 dan ayat 3 menjelaskan perbedaan yang disembah. Sedangkan ayat 4 dan 5 menjelaskan perbedaan cara beribadah. Tegasnya, yang disembah lain, cara menyembah juga lain.
Surat Al Kafirun ayat 6
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.
Kata diin (دين) artinya adalah agama, balasan, kepatuhan dan ketaatan. Sebagian ulama memilih makna balasan karena menurut mereka orang kafir Quraisy tidak memiliki agama.
Sedangkan yang mengartikan din sebagai agama, bukan berarti Rasulullah mengakui kebenaran agama mereka namun mempersilakan menganut apa yang mereka yakini.
Sayyid Qutb menegaskan, “Aku di sini dan kamu di sana! Tidak ada penyeberangan, tidak ada jembatan dan tidak ada jalan kompromi antara aku dan kamu!”
“Sesungguhnya jahiliyah adalah jahiliyah dan Islam adalah Islam. Perbedaan antara keduanya sangat jauh.”
Ibnu Katsir menjelaskan asbabun nuzul Surat Al Kafirun dalam tafsirnya. Bahwa orang-orang kafir Quraisy pernah mengajak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyembah berhala-berhala mereka selama satu tahun, lalu mereka akan menyembah Allah selama satu tahun. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surat ini.
Adalah sangat penting bagi kita semua untuk selalu mengedepankan nilai toleransi terhadap sesama dalam bersosial dan bermasyarakat. Dengan adanya toleransi kita dapat menciptakan sebuah kondisi yang kondusif dan sejahtera.
Dalam menjalani kehidupan kita tidak boleh bersikap arogan dan tidak memberikan toleransi kepada sesama. Adalah tanggung jawab kita semua untuk senantiasa menjadi masyarakat yang peduli dan dapat memberikan toleransi kepada orang lain.
Termasuk yang terpenting adalah toleransi dalam beragama. Agama adalah pegangan hidup seseorang, dan Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang boleh mencabutnya.
Toleransi agama ini sendiri sudah diatur dalam beberapa firman Allah di Al-Quran, salah satunya adalah surat (QS. Al Baqarah:256), Allah Swt berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.
“Tidak ada paksaan dalam beragama Islam. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut (tuhan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar, lagi maha mengetahui.” (QS. Al Baqarah:256)
Dan dalam Hadis tentang toleransi
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ.
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; ditanyakan kepada Rasulullah saw. “Agama manakah
yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: “Al-Hanifiyyah
As-Samhah (yang lurus lagi toleran)”
Maka, timbullah pertanyaan “Apakah kita sudah toleransi?
Ini adalah pertanyaan untuk kita semua terutama yang mengaku punya agama. Apakah kita sudah menerapkan toleransi beragama dalam kehidupan sehari hari.. Apakah kita sebagai umat beragama sudah merasa aman untuk beribadah? Kalau sudah, berarti lingkungan tempat Anda tinggal sudah bisa menerapkan nilai toleransi yang baik. Lalu Apakah Anda tidak di diskriminasi karena agama? Kalau Anda tidak mengalami diskriminasi tandanya lingkungan Anda sudah baik dalam mewujudkan nilai toleransi.
Toleransi beragama ini sendiri sudah dijalankan oleh Nabi Muhammad saw, salah satu contohnya adalah saat Nabi menjadi pemimpin di Madinah, dimana beliau menyatukan seluruh masyarakat, suku yang ada di Madinah. Terbukti dengan adanya perjanjian antara Nabi dengan umat Yahudi dan Nasrani, dimana mereka diperkenaankan untuk menjalankan ibadah mereka masing-masing. Namun dengan satu syarat yaitu hidup bersama di Madinah haruslah saling menghargai, menjaga kerukunan dan kesatuan Madinah. Perjanjian ini dikenal dengan Piagam Madinah.
Mengingat toleransi dalam beragama itu penting, sebaiknya kita jangan hanya sekedar berucap tanpa ada tindakan. Adapun fungsi dari toleransi sendiri, yaitu:
· Menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam pergaulan antar sesama umat manusia.
· Memperbanyak persaudaraan dan persahabatan.
· Menghilangkan kesulitan yang ada pada diri sendiri maupun pada orang lain.
Kemudian adapun manfaat dari toleransi:
1. Dapat terhindar dari adanya perpecahan umat beragama
Setiap orang sudah sepatutnya untuk menanamkan di dalam dirinya sifat toleran, serta menerapkannya di dalam kehidupan bersosial masyarakat, terutama di daerah yang di dalamnya terdapat berbagai jenis kepercayaan atau agama. Sikap toleransi antar umat beragama merupakan salah satu solusi untuk mengatasi terjadinya perpecahan di antara umat dalam mengamalkan agamanya. Sebagai contoh sikap toleransi antar umat beragama bisa kita lihat di negara kita ini, yaitu Indonesia yang memiliki lebih dari satu agama dan kepercayaan. Jika toleransi antar umat beragama tidak tertanam di dalam pribadi masing-masing warga negara Indonesia, maka kemungkinan besar negara ini akan terpecah belah dan tidak akan bertahan lama.
2. Dapat mempererat silaturahmi
Manfaat toleransi antar umat beragama berikutnya adalah terjalinnya tali silaturahmi. Pada umumnya, adanya suatu perbedaan selalu menjadi alasan terjadinya pertentangan antara orang (golongan) yang satu dengan lainnya, khususnya bagi mereka yang tidak bisa menerima adanya perbedaan tersebut. Salah satu contoh adalah adanya perbedaan agama yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya berbagai konflik serta pertikaian di antara sesama manusia, seperti tindakan terorisme, pembantaian pemuka agama, dan lain sebagainya yang pada akhirnya akan mengakibatkan dampak pada timbulnya kesengsaraan bagi manusia lainnya.
Lalu bagaimanakah solusi agar itu semua dapat dihindari? Solusinya adalah menumbuhkan kesadaran dalam diri masing-masing orang tentang pentingnya rasa saling menghormati dan menghargai guna merajut hubungan damai antar penganut agama. Dan jika hubungan damai telah terwujud maka tali silaturahmi antar pemeluk agama pun dapat terjalin dengan baik, bahkan lebih erat.
Jika sudah begitu maka cita-cita bangsa untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di tengah-tengah banyaknya perbedaan akan dapat terwujud, dan itu akan menjadikan sebuah negara yang lebih kuat dan kokoh dalam menghadapi ancaman apapun.
3. Terciptanya ketentraman dalam hidup bermasyarakat
Kehidupan masyarakat yang meskipun di dalamnya terdapat berbagai perbedaan seperti perbedaan beragama akan tetapi ada sikap saling toleransi yang tertanam di dalam hati warga masyarakat tersebut, maka tentunya hal itu akan menciptakan suasana yang aman, tentram, dan damai di dalam lingkungan tersebut. Tidak akan ada sikap saling mengejek, mengolok, menghina, serta merendahkan di antara para pemeluk agama, meskipun keyakinan yang mereka miliki sangat jauh berbeda.
Perbedaan itu hadir bukan sebagai pemisah tapi untuk mengeratkan hubungan dengan memperkaya warna dunia. Berbeda tapi tetap satu selera, satu tujuan yaitu menciptakan kehidupan yang damai dan saling membentuk ikatan atau simbiolisme yang mutualisme yaitu saling menguntungkan.
Dari penjelasan tadi, maka dapat ditariklah sebuah kesimpulan yaitu Islam memerintahkan kepada umatnya untuk saling tenggang rasa dan toleransi dalam menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Allah swt sengaja menciptakan manusia berbilang bangsa dan suku hanya untuk menguji, mampukah manusia untuk hidup rukun dan damai penuh kasih sayang di dalam mencari kebenaran di sisinya, serta sikap toleransi yang kita lakukan akan menciptakah bahtera kehidupan yang damai dan penuh keharmonisan.
Marilah mulai sekarang kita menanamkan sikap saling mengormati dan menghargai antar sesama. Kita tau bahwa air dan minyak tidak pernah bisa bersatu, namun kita tahu juga walaupun tidak bisa bersatu mereka tetap bisa berdampingan. Ada kehangatan di setiap perbedaan.
Sekian yang dapat saya sampaikan, kurang dan lebihnya mohon di maafkan karena kebenaran hanya milik Allah semata.
Komentar
Posting Komentar