Yang dimaksud dengan orang yang zalim terhadap diri sendiri adalah orang-orang yang tidak bersikap adil pada dirinya, dalam artian ia bertindak yang tidak sesuai pada tempatnya berdasarkan kebenaran atau ketetapan syariat atas dirinya sendiri. Mereka yang dzalim pada dirinya sendiri ini disebut DZALIMUN LINAFSIHI, yakni orang-orang yang aniaya atas dirinya sendiri.
» Pembahasan
Zalim atau dzalim dalam islam adalah perilaku tercela yang tidak menempatkan sesuatu hal atau sesuatu perkara sesuai pada tempatnya berdasarkan ketentuan syariat islam. Lawan dari sikap zalim ini adalah adil. Dengan demikian, mereka yang zalim atas dirinya adalah mereka yang melakukan tidakan tidak adil pada diri sendiri.
Mereka yang disebut golongan DZALIMUN LINAFSIHI ini adalah orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri dengan jalan melakukan banyak perbuatan dosa sehingga amalan baiknya pun lebih sedikir ketimbang perbutan buruknya.
Dzalimun Linafsihi sendiri adalah salah satu golongan manusia yang disebutkan di dalam Surah Fathir ayat 32. Adapun golongan lainnya adalah MUQTASHID dan SABIQUN BIL KHAIRAT.
Berikut beberapa hal yang termasuk menganiaya diri sendiri :
1. Bersikap sombong atau angkuh
Bagaimana mungkin bersikap sombong maupun angkuh masuk dalam kategori ‘menganiaya’ diri sendiri?
Kita bisa memahami konsep ini jika menggunakan kacamata kehidupan abadi, bukan kacamata dunia semata. Bukankah sifat sombong yang dimiliki oleh makhluk hanya pantas bertempat tinggal di neraka?
Oleh sebab itu, seorang manusia yang mendongakkan kepalanya dan bersikap angkuh pada manusia lain, menyombongkan hartanya, menyombongkan jabatannya, membanggakan ilmunya, maka hakikatnya dia tengah menganiaya diri sendiri.
“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,” (QS. Al Kahfi: 35)
2. Mengerjakan kejahatan
Jika seseorang melakukan pencurian, kebohongan, pemfitnahan, perzinaan, mungkin ia merasa diuntungkan dari tindak kejahatannya tersebut, namun sebenarnya ia tidak menyadari, sebenarnya tak ada seorang pun yang paling merugi akibat kejahatan yang diperbuatnya melainkan dirinya sendiri.
Mengapa demikian? Karena Allah telah menjelaskan bahwa kejahatan dan kebaikan yang diperbuat seseorang akan kembali pada dirinya sendiri.
Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan bertaubat dari segala perbuatan jahat yang dikerjakan.
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Annisa: 110)
3. Menyembah selain Allah
Menganiaya diri sendiri yang paling parah dan bahkan tidak lagi
bisa
diselamatkan adalah jika seseorang memiliki sembahan selain Allah.
Sembahan yang dimaksud bukan sekadar dewa-dewa atau Tuhan lain yang benar-benar disembah selain Allah, melainkan apapun yang lebih dicintai dan lebih ditakuti oleh diri kita melebihi kecintaan dan ketakutan kita pada kuasa Allah.
Misalnya, ketika kita mencintai dan takut kepada pasangan hidup lebih dari kadar cinta dan takut kita pada Allah, maka pasangan hidup kita hakikatnya merupakan sesuatu yang kita jadikan sebagai “sembahan” tandingan Allah.
Demikian juga jika cinta dan takut yang kita rasakan pada bos di kantor melebihi cinta dan takut pada Allah, maka bos kita tersebut merupakan sembahan yang kita miliki selain Allah. Sungguh, tiadalah beruntung orang-orang yang memiliki sesembahan selain Allah.
“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka,” (QS. Huud : 101)
ahabat, semoga kita bukanlah orang-orang bodoh yang menganiaya diri sendiri dengan mengutamakan kehidupan duniawi di atas segalanya.
Mudah-mudahan kita terjauh dari segala perbuatan zalim yang dapat
menganiaya diri kita di akhirat
kelak. (SH)
Adapun cara mengatasinya adalah melakukan hal sebaliknya. Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. Terlebih dengan melakukan kebaikan yang kebermanfaatannya jangka panjang.
“Maka Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri,” (QS. Ar Ruum:
Dalil tentang larangan menzalimi diri sendiri dari AL-Qur’an :
1. Rasulullah SAW bersabda tentang larangan menzalimi diri sendiri. Bahwa, orang-orang tersebut bukan termasuk golongannya.
"Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliyah." (HR Al-Bukhari 1294).
2. “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada merekadengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah sangat benci kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Ali ‘Imraan: 57)
3. “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu [49]. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 54)
4. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’ : 29)
Dalil dari hadis :
1. “Barangsiapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung sehingga membunuh dirinya, maka di dalam neraka Jahannam dia (juga) menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa meminum racun sehingga membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya. Dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam. Dia tinggal di dalam neraka Jahannam selama-selamanya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya. Di dalam neraka Jahannam ia akan menikam perutnya. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka untuk selama-lamanya.” (HR.Muslim)
3. Dari Syaiban ra, dia mendengar Hasan ra, bercerita : “Masa dulu, ada seorang laki-laki keluar bisul. Ketika ia tidak dapat lagi menahan sakit, ditusuknya bisulnya itu dengan anak panah, menyebabkan darah banyak keluar sehingga ia meninggal. Lalu Tuhanmu berfirman : Aku haramkan baginya surga.” (Karena dia sengaja bunuh diri.) Kemudian Hasan menunjuk ke masjid sambil berkata, “Demi Allah! Jundab menyampaikan hadits itu kepadaku dari Rasulullah saw di dalam masjid ini.” (HR. Muslim)
Azab Bagi Orang yang Melukai Dirinya Sendiri
Dari penjelasan diatas, sudah jelas bahwa perbuatan melukai diri sendiri tidak diperbolehkan dalam islam. Bahkan Allah Ta’ala mengancam memberikan azab kepada orang-orang yang berbuat aniaya atau mendzolimi diri sendiri. Diantaranya yakni:
· Dijanjikan Neraka
“Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’: 30)
· Mendapatkan Siksa yang Setimpal
Seseorang yang bunuh diri dengan meminum racun, maka di neraka ia juga akan meminum racun tersebut tanpa berkesudahan. Bila ia menikam dirinya dengan alat tajam maka di neraka tubuhnya juga akan ditikam berkali-kali. Intinya, apa yang telah dilakukan akan kembali pada dirinya sendiri di akhirat kelak. Naudzubillah Mindzalik.
Dari Tsabit bin Dhahhak RA, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia disiksa dengan (alat tersebut) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
· Diharamkan Surga
Dari Jundub bin Abdullah berkata, Nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Dahulu pada umat sebelum kalian, ada seorang lelaki yang terluka. Dia tidak sabar, kemudian dia mengambil pisau dan ia potong sendiri tangannya. Belum lagi darahnya kering, orang itu pun meninggal dunia. Kemudian Allah ta’ala berkata: hamba-Ku telah mendahului Aku dengan nyawanya, maka aku haramkan baginya surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Komentar
Posting Komentar